Luthfi Idris Cerita Linux, Jerman Wirausaha dan Hidup Sederhana

(1/4) Perjalanan Linuxer jadi Windowser

Tidak anti sama sekali dengan microsoft, kadang kita harus bersikap pragmatis dan jangan terlalu idealis. Tidak boleh terlalu fanatik terhadap sesuatu. Awalnya memang saya suka linux, bahkan sampai sekarang. Sistem operasi yang dipakai di laptop, tetap archlinux. Aplikasinya pun tetap yang open source. Tetapi karena ini berhubungan dengan kerjaan dan tidak ada pilihan lain, maka saya menggunakan Microsoft Windows sebagai sistem operasi utama pada komputer kantor.

Setelah menggunakan Microsoft Windows dan Office untuk aplikasi utama di kantor, saya merasakan butuh terobosan atau sesuatu yang harus lebih dibanding menggunakan Excel dan Powerpoint saja. Selain kedua aplikasi itu mempunyai keterbatasan, aplikasi itu juga terlalu jamak dan sulit untuk dikembangkan lebih jauh.

Oleh karena itu saya mencari aplikasi lain yang bisa mengolah data dan menampilkanya dengan baik. Awal mulanya saya menonton video wawancara salah satu employee gojek yang lebih memilih menggunakan Tableau daripada Excel. Mulai dari situ saya tertarik dengan apa yang namanya Tableau.

Tableau adalah perangkat lunak untuk data visualisasi. Intinya adalah kita mengunggah atau menyambungkan database yang sudah ada untuk kemudian disambungkan dengan data yang lain. Cara ini mirip dengan konsep relational database, dimana ada primary key dan foreign key yang disambungkan sehingga data dua tabel bisa saling terhubung. Setelah terhubung bisa untuk diquery.

Perjalanan untuk mencoba menggunakan Tableau ternyata tidak mulus. Awalnya saya hanya bisa trial 30 hari, lalu untuk menggunakan visualisasi peta saya terhalang oleh proxy kantor. Tableau juga menurut saya agak relatif sulit digunakan untuk pemula dan lumayan berat untuk komputer kantor saya yang waktu itu memory nya cuma 4GB. Dan yang paling menjadi perhatian adalah Tableau itu bayar dan cukup mahal. Walau bisa saja dibayarin kantor tapi sampai sekarang belum begitu dibutuhkan. Butuh meyakinkan tingkat dewa untuk merealisasikannya.

Lalu saya mencari alternatif lain yang kalau bisa open source, gratis dan mudah digunakan. Eh, saya malah bertemu dengan Microsoft Power BI. Keunggulannya adalah mudah digunakan, untuk visualisasi peta yang menggunakan Bing Maps tidak terhalang proxy kantor dan yang paling penting adalah Gratis untuk desktop standalone. Lumayan lah, bisa sambil belajar juga.

Saya mulai mengoprek Power BI, mulai dari relationship datanya, belajar sedikit-sedikit soal DAX function, add-on nya yang keren-keren. Sepertinya ada baiknya untuk pembahasan apa yang saya tau soal Power BI akan saya lanjutkan di postingan selanjutnya. BERSAMBUNG.

« Pos Sebelumnya